Jakarta – Emiten-emiten berkapitalisasi pasar besar (blue chips) di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara mengejutkan berhasil mencatatkan pertumbuhan laba yang terlampau signifikan pada kuartal I-2026. Meski pasar modal tengah dibayangi oleh tingginya suku bunga global dan tensi geopolitik di Timur Tengah, kinerja fundamental yang moncer dari sektor energi, perbankan, dan konsumer sukses menjadi jangkar yang menopang stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Fakta paling signifikan pertama datang dari sektor material dasar dan energi yang memimpin akselerasi kinerja secara spektakuler. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) membukukan rekor lonjakan laba bersih hingga 669,9% secara tahunan (year-on-year/YoY). Pencapaian ini disusul oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melesat 450,9% YoY, serta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang tumbuh 282,3% YoY. Pemulihan ini turut didukung oleh stabilitas operasional, yang ditandai dengan langkah TPIA mengakhiri status force majeure pasokan polimernya untuk memenuhi kebutuhan industri domestik.
Fakta krusial kedua adalah daya tahan luar biasa dari sektor perbankan dan konsumer. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menorehkan laba bersih sebesar Rp14,7 triliun, tumbuh 4% YoY yang ditopang oleh ekspansi kredit mencapai Rp994 triliun. Sejalan dengan hal tersebut, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mencetak laba Rp5,66 triliun atau naik 5,2% YoY. Sementara di sektor konsumer, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menorehkan lonjakan laba bersih hingga 73% YoY menjadi Rp2,14 triliun, yang terkatrol oleh aksi divestasi bisnis es krimnya. Emiten perhiasan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turut meraup laba Rp433,49 miliar berkat lonjakan harga jual rata-rata (ASP) emas sebesar 71,01%.
Menanggapi realisasi laba yang jauh melampaui ekspektasi pesimistis pasar ini, Analis sekaligus VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memberikan pandangannya. “Momentum ini harus dilihat lebih selektif, apakah merupakan pemulihan laba yang berkelanjutan atau sekadar lonjakan laba yang sifatnya siklikal dan one-off,” tegas Audi.
Sebagai fakta signifikan ketiga sekaligus rekomendasi strategis, Kiwoom Sekuritas menilai valuasi saham big caps di indeks LQ45 kini berada di level yang sangat sehat pasca-koreksi. Sektor perbankan direkomendasikan sebagai proksi investasi utama berkat struktur dana murah (CASA) yang kuat, disusul oleh sektor konsumer sebagai instrumen defensif di tengah terkendalinya inflasi, serta sektor energi yang tetap memikat untuk investasi taktikal selama harga komoditas global tertahan di level tinggi.
