mikirinvestasi.com – Di tengah rentetan tekanan yang mengguncang pasar modal, para analis merekomendasikan investor untuk mulai menerapkan strategi buy on dip atau akumulasi di harga bawah menyusul koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terperosok 0,98 persen ke level 6.837,67 pada penutupan Selasa (12/5/2026). Pelemahan ini secara kumulatif telah memangkas kinerja indeks hingga 20,92 persen sejak awal tahun (year-to-date), yang utamanya ditekan oleh sentimen pelarian modal menjelang pengumuman rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta pelemahan nilai tukar Rupiah yang menembus Rp17.500 per dolar AS.
Merosotnya indeks secara tajam tersebut menciptakan kondisi di mana valuasi deretan emiten raksasa kini berada di posisi yang sangat murah (undervalued). Sejumlah saham dengan fundamental kuat di sektor perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, hingga emiten properti seperti PANI, PWON dan ASRI, terpantau telah menyentuh level harga terendah mereka dalam tiga hingga lima tahun terakhir.
Meskipun pasar secara umum tengah berada dalam fase bearish, kinerja keuangan dari emiten-emiten tersebut justru terbukti sangat solid. Sebagai contoh, BBCA tetap mampu mencatatkan pertumbuhan laba 5 persen secara tahunan, sementara raksasa konsumer ICBP melesat 30 persen, dan emiten properti CTRA sukses membukukan kenaikan laba 25 persen. Kesenjangan antara harga saham yang terkoreksi tajam dan profitabilitas perusahaan yang bertumbuh inilah yang memicu sinyal beli kuat bagi para pemodal.
Analis Phillip Sekuritas, Marvin Lievincent, menilai kondisi kepanikan pasar saat ini merupakan momentum emas yang jarang terjadi. “Bagi investor kawakan, ini saat yang tepat untuk akumulasi investasi jangka panjang. Dalam arti kita beli di harga murah lalu kita tahan 5-10 tahun lagi,” tegas Marvin.
Sejalan dengan optimisme pasar, regulator juga meyakinkan publik bahwa volatilitas akibat penyesuaian indeks MSCI hanyalah efek samping sementara dari perbaikan standar transparansi di Bursa Efek Indonesia. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menenangkan investor dengan menegaskan komitmen negara terhadap reformasi integritas pasar modal. “Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah, tapi insya Allah long term gain,” ujar Friderica. Pembenahan fundamental ini diyakini akan menjadi fondasi yang mengokohkan ketahanan IHSG pada masa mendatang.
