WASHINGTON D.C. – Laju inflasi Amerika Serikat dilaporkan melambat secara signifikan menjadi 3,5 persen pada bulan Juni akibat penurunan harga bahan bakar pascaperjanjian gencatan senjata sementara dengan Iran. Berdasarkan data yang dirilis jurnalis Matt Grossman pada hari Selasa waktu setempat, angka ini menandai penurunan dari tingkat inflasi 4,2 persen pada bulan Mei sekaligus lebih rendah dari prediksi para analis Wall Street Journal sebesar 3,8 persen. Namun, kembali berkecamuknya pertempuran dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran baru terhadap tekanan ekonomi pada bulan Juli.
Penurunan inflasi pada bulan Juni didorong oleh kemerosotan harga bensin konsumen sebesar 10 persen dibanding bulan sebelumnya, meskipun secara tahunan angka tersebut masih lebih tinggi 27 persen. Perlambatan harga juga meluas ke sektor pakaian, mobil bekas, asuransi mobil, dan layanan kesehatan. Bahkan, harga inti (tidak termasuk makanan dan energi) tercatat flat secara bulanan, menandai momen pertama tanpa kenaikan harga inti dalam lebih dari lima tahun.
Kendati demikian, tren positif ini diprediksi berumur pendek karena runtuhnya gencatan senjata telah mendongkrak harga minyak acuan AS sebesar 14 persen sepanjang bulan Juli berjalan. Selain konflik, lonjakan investasi pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI)—yang menaikkan indeks harga perangkat lunak komputer hingga lebih dari 17 persen—serta kebijakan tarif Presiden Trump diperkirakan akan terus memberikan tekanan ke atas pada harga barang.
Merespons laporan ini, pelaku pasar berjangka langsung memangkas probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve pada akhir bulan dari 40 persen menjadi hanya 17 persen, yang sekaligus memicu penguatan indeks saham Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq.
Meskipun membawa sentimen positif, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan di Capitol Hill bahwa penurunan inflasi Juni bukan berarti bank sentral bisa langsung menyatakan tugas mereka telah selesai. Sentimen kehati-hatian ini juga disuarakan oleh para ekonom.
“Saya tidak akan bertaruh bahwa angka inflasi yang lebih rendah ini akan terus berlanjut di sisa tahun ini,” ujar Mike Reid, Kepala Ekonomi AS di RBC Capital Markets.
Omair Sharif, Kepala firma penasihat Inflation Insights, turut menambahkan bahwa perbaikan signifikan pada beberapa kategori seperti asuransi mobil dan perhotelan tidak dapat diharapkan terulang kembali pada bulan-bulan mendatang.
