mikirinvestasi.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dipastikan akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 13 hingga 15 Mei 2026. Kunjungan kenegaraan pertama presiden AS ke daratan China sejak tahun 2017 ini terlaksana di tengah tingginya tensi geopolitik akibat eskalasi konflik Timur Tengah, dengan fokus negosiasi yang berpusat pada dominasi kecerdasan buatan (AI), krisis cip, hingga ketegangan status Taiwan.
Menjelang pertemuan krusial ini, kedua negara adidaya masih bersaing ketat untuk memperebutkan kendali atas rantai pasok global. Sebelumnya, melalui kesepakatan Perjanjian Kuala Lumpur, China telah sepakat untuk melonggarkan kontrol ekspor mineral kritis penyokong semikonduktor seperti galium, germanium, dan logam tanah jarang. Namun, posisi tawar Washington kini dipertajam dengan manuver agresif pemerintahan Trump yang baru saja mengajukan rekor anggaran pertahanan historis untuk tahun fiskal 2027 sebesar US$1,5 triliun. Anggaran yang meroket 42 persen dari alokasi sebelumnya ini secara gamblang ditujukan untuk mengamankan superioritas militer dan memperkuat basis industri pertahanan AS.
Selain perang dagang dan dominasi teknologi, nasib Taiwan diproyeksikan menjadi arena perdebatan diplomatik yang paling tajam dalam pertemuan tersebut. Otoritas Beijing diperkirakan akan memanfaatkan momen ini untuk menekan Washington agar mengubah postur kebijakannya secara formal menjadi dengan tegas “menentang” kemerdekaan Taiwan, bukan lagi sekadar “tidak mendukung” seperti prinsip kehati-hatian yang dianut AS selama puluhan tahun terakhir.
Pergeseran dinamika kekuatan akibat konflik terbuka dengan Iran membuat posisi Amerika Serikat di meja perundingan mendapat sorotan tajam dari para pakar internasional. Wakil Presiden sekaligus Direktur Kebijakan Luar Negeri di Brookings Institution, Suzanne Maloney, menilai momentum pertemuan ini memiliki muatan psikologis yang sangat berat bagi AS. “Gagasan tentang seorang presiden Amerika yang pergi ke pertemuan puncak dengan pesaing utama kita pada saat ia baru saja mengalami kegagalan strategis yang paling dahsyat dalam ingatan kita baru-baru ini akan menjadi momen yang sangat mencolok,” tegas Maloney, menggarisbawahi posisi rentan dan krusial yang tengah dihadapi Trump di Beijing.
