KTT Beijing: Xi Jinping Sambut Era Baru Kemitraan Strategis AS-China

BEIJING – Presiden China Xi Jinping secara resmi menyambut posisi baru hubungan bilateral yang stabil dan konstruktif dengan Amerika Serikat (AS) usai menggelar pertemuan tingkat tinggi (KTT) dengan Presiden Donald Trump di Beijing, Kamis (14/5/2026). Pertemuan strategis yang berlangsung di tengah gejolak geopolitik global ini menandai kunjungan pertama presiden AS ke China dalam hampir satu dekade terakhir, sekaligus menegaskan upaya kedua negara adidaya untuk menjauhi konflik demi kemakmuran bersama.
Dalam pidato pembukaannya, Xi Jinping menegaskan tiga fakta signifikan terkait masa depan hubungan kedua negara. Pertama, China dan AS sepakat membangun hubungan strategis baru dengan prinsip sebagai mitra dagang, bukan saingan. Kedua, kedua pihak membahas perpanjangan gencatan senjata tarif satu tahun yang sebelumnya disepakati di Korea Selatan pada Oktober 2025. Ketiga, pertemuan ini turut membahas isu krusial di luar perdagangan, seperti kontrol ekspor tanah jarang (rare earths) China dan regulasi persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Data statistik menunjukkan pentingnya stabilitas ini bagi pasar global. Setelah perang dagang intensif, kesepakatan gencatan senjata tarif satu tahun menjadi tumpuan bagi volume perdagangan bilateral kedua negara yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar AS. Kunjungan dua hari ini juga bernilai strategis karena Trump membawa serta delegasi CEO papan atas, termasuk Elon Musk (Tesla) dan Jensen Huang (Nvidia), guna mengamankan kepastian rantai pasok teknologi global.
“Kita harus menjadi mitra, bukan saingan, meraih kesuksesan bersama, makmur bersama, dan menciptakan jalan yang benar bagi negara-negara besar di era baru,” ujar Xi Jinping dalam siaran pers resmi Kementerian Luar Negeri China yang dikutip oleh CNN (14/5/2026).
Menanggapi hal tersebut, Presiden Donald Trump menyampaikan optimisme tinggi atas kepemimpinan Xi Jinping. Di sisi lain, menteri luar negeri AS, Marco Rubio, menambahkan dimensi geopolitik lain dengan menyatakan harapan agar China dapat mengambil peran lebih aktif guna meredam ketegangan konflik di Teluk Persia. Kunjungan ini diharapkan menghasilkan komitmen konkret termasuk rencana kunjungan balasan Xi Jinping ke Amerika Serikat pada akhir tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-1586342767751139, DIRECT, f08c47fec0942fa0