JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mengalami tekanan jual ekstrem hingga merosot lebih dari 4 persen dan menyentuh level 6.323 pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Pelemahan yang menempatkan indeks komposit pada posisi terlemahnya sejak April 2025 ini dipicu oleh kombinasi mematikan antara anjloknya nilai tukar Rupiah ke rekor terendah sepanjang sejarah serta lonjakan tajam imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Kepanikan pasar tergambar jelas dari dominasi zona merah di lantai bursa, di mana 645 saham berguguran secara massal dan hanya 92 saham yang mampu menguat. Aktivitas transaksi mencatatkan nilai sebesar Rp19,72 triliun dengan volume 37,44 miliar lembar saham yang sangat didominasi oleh aksi jual. Sektor barang baku dan energi menjadi sektor dengan kejatuhan terparah, masing-masing merosot hingga 8,63 persen dan 7,86 persen. Kejatuhan masif ini turut diperberat oleh saham-saham berkapitalisasi raksasa, seperti PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang bertindak sebagai laggard atau penekan utama indeks.
Ambruknya bursa domestik ini merupakan imbas langsung dari sentimen global dan lokal yang memburuk secara simultan. Di pasar valuta asing, Rupiah terjerembap menyentuh level Rp17.723 per Dolar AS, memperpanjang tren negatif di tengah ketegangan geopolitik. Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun meroket menembus angka 4,6 persen seiring ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi akibat lonjakan harga minyak global. Dari dalam negeri, sentimen pasar semakin tertekan oleh wacana kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas mineral dan batu bara melalui pembentukan badan baru.
Menanggapi situasi genting ini, para analis memvalidasi adanya gelombang pelarian modal asing yang krusial. Dalam risetnya yang dipublikasikan oleh Bloomberg Technoz, tim riset BRI Danareksa Sekuritas menyoroti bahwa tekanan bursa domestik tak lepas dari pergerakan aset di pasar global. “Kenaikan yield US Treasury di rentang 4,6 persen serta berlanjutnya depresiasi rupiah mendorong terjadinya aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang,” tulis laporan tersebut. Gempuran sentimen negatif ini secara resmi menempatkan bursa saham Indonesia sebagai indeks dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada perdagangan hari ini.











