Jakarta – Dinamika perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak awal tahun hingga 10 Mei 2026 menyajikan anomali yang mengejutkan pada deretan saham dengan harga nominal tertinggi. Kinerja “saham sultan” ini menunjukkan tren yang sangat terpolarisasi; sebagian emiten sukses mencetak lonjakan harga yang impresif, sementara emiten lainnya justru terkapar dengan koreksi valuasi yang sangat dalam akibat aksi ambil untung massal dan perubahan sentimen sektoral.
Terdapat tiga fakta paling signifikan yang membedah gejolak saham-saham termahal di bursa saat ini. Fakta pertama adalah kejatuhan brutal pada emiten teknologi yang diwakili oleh PT Multipolar Technology Tbk (MLPT). Saham ini mencatatkan koreksi paling tajam di daftar saham mahal, anjlok hingga 66,06 persen yang menyeret harganya dari level Rp62.250 pada awal Januari menjadi hanya Rp21.125. Pelemahan ini turut diikuti oleh saham dengan nominal termahal di bursa, PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang terkoreksi 5 persen secara year-to-date, serta emiten alat berat PT United Tractors Tbk (UNTR) yang melemah 8,97 persen akibat dinamika penurunan harga komoditas.
Fakta kedua menyoroti anomali lonjakan spektakuler di sektor konsumer yang menentang arus koreksi. PT Akasha Wira International Tbk (ADES) tampil sebagai jawara dengan meroket 52,54 persen ke level Rp23.300, didorong oleh efisiensi operasional yang direspons sangat positif oleh pasar. Momentum serupa dinikmati oleh raksasa tembakau PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang melesat 22,53 persen berkat penahanan tarif cukai tahun ini.
Fakta ketiga mengungkap akar dari volatilitas ekstrem tersebut. Secara struktural, saham dengan nominal harga sangat tinggi cenderung memiliki porsi saham beredar yang terbatas di publik (kurang likuid), sehingga sedikit saja perubahan persepsi pasar dapat memicu pergerakan harga yang liar.
Terkait fenomena tersebut, laporan CNBC Indonesia Research memberikan peringatan analitis bagi para pelaku pasar. “Kesenjangan performa antara emiten seperti ADES dan MLPT menegaskan bahwa pemilihan sektor tetap menjadi kunci utama dalam strategi investasi di bursa saham tahun ini,” urai riset tersebut. Hal ini mengonfirmasi bahwa harga saham yang mahal bukanlah jaminan mutlak atas fundamental yang kebal terhadap tekanan bursa.













