Data CPI US Keluar! Laju Inflasi AS April Naik ke 3,8 Persen karena Tekanan Energi

mikirinvestasi.com – Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) pada Selasa (12/5/2026) secara resmi merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) atau CPI bulan April yang melonjak secara tak terduga hingga menyentuh level 3,8 persen secara tahunan. Laporan makroekonomi yang jauh melampaui proyeksi moderasi pasar ini langsung membuyarkan harapan investor terhadap pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat, sekaligus menandai tingkat inflasi tertinggi sejak September 2023.  

Berdasarkan rilis resmi tersebut, inflasi utama mencatatkan kenaikan bulanan sebesar 0,6 persen. Sektor energi menjadi penyumbang terbesar yang mendorong lonjakan ini, dengan indeks energi meroket 3,8 persen hanya pada bulan April, yang berarti sektor ini menyumbang lebih dari 40 persen dari total kenaikan indeks secara keseluruhan. Secara tahunan, indeks harga energi telah melambung tajam hingga 17,9 persen. Tidak hanya energi, tekanan inflasi juga merembes ke sektor pangan yang naik 0,5 persen secara bulanan, serta indeks biaya tempat tinggal (shelter) yang juga ikut meningkat 0,6 persen.  

Di luar sektor makanan dan energi yang sangat fluktuatif, inflasi inti (Core CPI) turut memperlihatkan tren akselerasi yang mengkhawatirkan. Inflasi inti tercatat naik 0,4 persen secara bulanan dan merangkak ke level 2,8 persen secara tahunan. Fakta di lapangan menunjukkan laju inflasi yang terdata ini bahkan diyakini masih tertahan oleh penyesuaian perhitungan statistik. Chief Economist EY-Parthenon, Gregory Daco, menggarisbawahi bahwa tanpa adanya bias ke bawah dari metodologi BLS yang digunakan untuk mengisi kesenjangan data selama penutupan layanan pemerintah pada bulan Oktober lalu, estimasi inflasi IHK sebenarnya bisa lebih tinggi 0,3 hingga 0,4 poin persentase.  

Menghadapi data inflasi yang persisten tinggi ini, para pembuat kebijakan di Federal Reserve terpaksa memutar haluan. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menegaskan bahwa bank sentral tidak bisa lagi hanya mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter. Dalam keterangannya kepada Barchart, ia menyatakan dengan tegas bahwa saat ini seluruh opsi terkait suku bunga berada di atas meja, tidak hanya pemotongan suku bunga.  

Pernyataan bernada hawkish tersebut yang dikombinasikan dengan data komponen CPI yang solid secara efektif menghapus ekspektasi pasar akan pelonggaran moneter The Fed. Pelaku pasar kini bahkan mulai memperhitungkan probabilitas bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, atau bahkan menaikkannya kembali di akhir tahun demi menekan laju inflasi kembali ke target dua persen.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-1586342767751139, DIRECT, f08c47fec0942fa0