Jakarta – Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mereposisi sektor ekonomi kreatif (ekraf) dari sekadar aktivitas pinggiran berbasis hobi menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah strategis berskala besar ini diambil sebagai intervensi konkret dalam upaya mewujudkan target pertumbuhan ekonomi makro sebesar 8 persen. Melalui dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pemerintah telah mengesahkan target ambisius berupa lonjakan penanaman modal di sektor ekonomi kreatif yang diproyeksikan mampu mencapai rentang Rp131 triliun hingga Rp146,5 triliun pada tahun 2026. Target triliunan rupiah tersebut merupakan eskalasi yang signifikan dari pencapaian tahun 2025, di mana realisasi investasi berhasil terserap optimal menembus batas atas sebesar Rp136 triliun.
Pergeseran paradigma struktural ini didasarkan pada realitas performa fundamental ekonomi kreatif yang menunjukkan ketahanan luar biasa. Berdasarkan data statistik terkini, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor ekonomi kreatif berhasil mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif di angka 5,69 persen, sebuah torehan yang melampaui rata-rata laju pertumbuhan ekonomi nasional konvensional. Lebih jauh, hingga akhir tahun lalu, sektor ini telah sukses menyerap lebih dari 27,4 juta tenaga kerja aktif, menjadikannya jaring pengaman sosial yang vital di tengah disrupsi dan ketidakpastian ekonomi global. Selaras dengan tingginya investasi yang masuk, pemerintah turut mematok nilai ekspor produk ekonomi kreatif pada angka US$27,85 miliar untuk tahun anggaran 2026.[4] Pada periode sebelumnya, performa ekspor ekraf telah meroket hingga US$26,68 miliar dan memberikan kontribusi sebesar 11,96 persen terhadap total ekspor non-migas Indonesia, yang tercatat sebagai rekor sumbangsih tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Untuk merealisasikan target ekspor global yang fantastis tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif tengah melancarkan program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK). Program ini dirancang khusus sebagai inkubator untuk mendukung para pelaku industri dari 17 subsektor agar mampu melakukan penetrasi dan berekspansi di pasar internasional. Guna memastikan kelancaran rantai pasok global, pemerintah turut memetakan strategi geopolitik perdagangan dengan menetapkan Swiss sebagai negara hub atau pusat distribusi utama untuk kawasan Eropa, Thailand untuk mendominasi kawasan regional Asia Tenggara, dan Uni Emirat Arab sebagai pintu gerbang menuju pangsa pasar Timur Tengah. Saat ini, Amerika Serikat masih memegang status sebagai destinasi ekspor tertinggi Indonesia, yang ditopang oleh subsektor fesyen senilai US$14,86 miliar dan subsektor kriya sebesar US$11,10 miliar.
Kebijakan agresif pemerintah ini mendapatkan afirmasi positif dari kalangan akademisi dan pakar makroekonomi. Anggota Dewan Penasihat Prasasti Center for Policy Studies, Burhanuddin Abdullah, menilai bahwa ekonomi kreatif memiliki potensi mutlak sebagai fondasi transformasi ekonomi nasional jangka panjang. Dalam gelaran forum Prasasti Insights, Burhanuddin memaparkan analisisnya bahwa Indonesia memiliki keunggulan struktural absolut yang sama sekali tidak dapat direplikasi oleh negara kompetitor. “Indonesia memiliki modal yang tidak mudah direplikasi, yakni kekayaan budaya yang orisinal serta kreativitas yang tumbuh dari keragaman,” tegas mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut menganalisis kelebihan domestik.
Burhanuddin menambahkan secara kritis bahwa di saat negara-negara industri maju hanya bertumpu pada efisiensi skala produksi massal dan intervensi teknologi semata, ekonomi kreatif Indonesia justru mampu menawarkan diferensiasi nilai yang kuat karena berbasis pada identitas, narasi sejarah, dan inovasi lokal. “Potensi ini menjadikan sektor ekonomi kreatif relevan membuka peluang ekonomi nasional dalam mencapai target pertumbuhan,” jelas Burhanuddin menekankan posisinya sebagai motor penggerak ekonomi.
Pandangan senada dan penuh optimisme turut disuarakan oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, dalam pidatonya di sela-sela forum IP Expo Indonesia 2026 yang berlangsung di Jakarta. Irene menekankan dengan tegas bahwa perekonomian Indonesia sudah saatnya melepaskan ketergantungan historis terhadap sumber daya alam (SDA) yang tak terbarukan, dan beralih menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan yang berkelanjutan. Menurutnya, kekuatan sejati dari ekonomi kreatif berangkat dari realitas bahwa sumber daya manusia dan kreativitas adalah hal yang tidak ada batasnya. Pemerintah kini berfokus pada upaya penciptaan ekosistem terpadu, yang tidak sekadar mendorong volume penciptaan karya, tetapi juga wajib memfasilitasi akses pembiayaan, ekspansi distribusi, serta memberikan pelindungan Kekayaan Intelektual (IP) agar kreator lokal mendominasi kancah global.
Sebagai wujud konkret dari komitmen penciptaan ekosistem bisnis tersebut, pemerintah secara khusus memberikan panggung eksklusif bagi sejumlah studio pengembang gim lokal pada perhelatan akbar IP Expo 2026. Ajang internasional ini dimanfaatkan secara maksimal untuk memamerkan kekayaan intelektual (IP) unggulan tanah air agar mendapatkan sorotan dan pendanaan dari investor global. Beberapa entitas pengembang yang berhasil difasilitasi antara lain Gambir Studio dengan karya permainannya berjudul KuloNiku, Digital Happiness yang sukses melanjutkan waralaba horor internasionalnya melalui DreadOut 3, serta Toge Productions dengan permainan naratif emosional A Space for the Unbound. Turut hadir pula studio Segara dengan IP Sambelina dan Tabletoys melalui karya berjudul Sekata. Kehadiran karya-karya bermutu tinggi ini menjadi bukti nyata dari pernyataan Wamenekraf Irene bahwa integrasi antara kreativitas artistik dan realisasi komersial mampu menghasilkan produk padat teknologi digital yang memiliki daya jual tinggi di mata kapitalis internasional.









