Krisis Hormuz Mencekik Pasokan Minyak, Penggunaan Batu Bara Global Kembali Melonjak Tajam

mikirinvestasi.coom – Konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang memicu penutupan efektif Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 telah memangkas sekitar 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) global, memaksa Taiwan, Korea Selatan, India, dan Italia kembali mengaktifkan pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebelumnya dihentikan. Langkah darurat ini menjadi respons atas lonjakan harga LNG yang melonjak dua kali lipat dan kekurangan pasokan energi yang mengancam stabilitas industri di kawasan Asia yang menyerap lebih dari 80 persen perdagangan LNG dunia.

Harga batu bara acuan Newcastle di Australia langsung merespons krisis ini. Dilansir dari FXStreet, kontrak ICE Newcastle ditutup pada level 138,00 dolar AS per ton pada perdagangan 18 Mei 2026, melesat sekitar 12 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari lalu. Harga sempat menyentuh level tertinggi 2026 di angka 150 dolar AS per ton pada awal Maret, meskipun masih jauh di bawah rekor 440 dolar AS pasca invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022.

Respons paling masif terjadi di kawasan Asia. Kepala Pasar Batu Bara Thermal Wood Mackenzie, Tony Knutson, dalam analisisnya yang dipublikasikan Bitget News pada 17 Mei 2026, menegaskan bahwa batu bara kini menjadi penyangga energi yang tidak terpengaruh faktor geopolitik. “Selama konflik berlanjut dan pelayaran melalui selat tetap terhambat, batu bara akan mengisi celah tersebut,” ujarnya. Ia menilai gangguan pasar saat ini bahkan lebih besar daripada krisis sebelumnya, memaksa negara tanpa cadangan gas memadai untuk beralih kembali ke batu bara.

Taiwan Power Co, misalnya, mengaktifkan kembali Unit 1 dan 3 PLTU Mailiao mulai Mei setelah pasokan LNG dari Qatar terhambat. Korea Selatan, mengutip laporan CNBC Indonesia, secara resmi menunda penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara dan mencabut batasan produksi listrik dari batu bara, serta bersiap meningkatkan pembangkit tenaga nuklir dan batu bara jika harga LNG tetap tinggi. Sementara itu, India mengeluarkan perintah darurat yang mewajibkan pembangkit listrik berbasis batu bara beroperasi pada kapasitas maksimum untuk mengantisipasi musim panas ekstrem dengan puncak permintaan listrik mencapai 270 gigawatt.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, dalam pernyataannya yang dikutip Bukurepublika.id, mengakui bahwa lonjakan harga energi global akan mendorong pemerintah mencari alternatif dan meningkatkan penggunaan batu bara secara temporer, langkah yang ironis saat dunia sedang gencar mengurangi emisi karbon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-1586342767751139, DIRECT, f08c47fec0942fa0