mikirinvestasi.com – Kota Foshan, yang selama ini dikenal dunia sebagai ibu kota furnitur China, kini tengah berjuang mati-matian untuk bertahan dari ancaman kebangkrutan massal pada tahun 2026. Badai tarif impor yang agresif dari Amerika Serikat, dikombinasikan dengan krisis properti domestik, telah memukul telak sektor manufaktur bernilai rendah di jantung wilayah Delta Sungai Mutiara tersebut, memaksa rantai pasok global bergeser dengan cepat meninggalkan daratan Tiongkok.
Guncangan ekonomi ini terekam jelas dalam data resmi pemerintah yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Foshan hanya mencapai 0,2 persen sepanjang tahun lalu, tertinggal sangat jauh dari rata-rata pertumbuhan nasional China yang berada di level 5 persen. Keterpurukan ini ditarik jatuh oleh anjloknya total ekspor furnitur dan produk terkait China sebesar 6,8 persen pada 2025. Penurunan paling brutal terjadi pada pasar Amerika Serikat, di mana volume pengiriman furnitur dari China merosot tajam hingga 18 persen dan tren negatif tersebut terus berlanjut hingga saat ini.
Akar dari krisis ini bersumber pada pemberlakuan tarif impor era pemerintahan Donald Trump. Tarif yang kini dipatok di level 25 persen untuk sejumlah produk furnitur—setelah sempat menyentuh angka ekstrem 100 persen—telah memicu eksodus pesanan dari raksasa ritel AS menuju negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Meksiko. Situasi ini semakin diperparah oleh meletusnya perang di Iran yang memukul mundur permintaan potensial dari pasar Timur Tengah, mengubah sejumlah pusat pameran mebel raksasa di Foshan menjadi sunyi layaknya kota mati.
Menghadapi ancaman eksistensial ini, para produsen lokal terpaksa memutar otak dengan beralih meninggalkan produksi massal dan mulai membidik pasar furnitur kelas atas serta desain kustom. “Kita harus meningkatkan kualitas diri kita,” ujar Ken Huo, seorang veteran eksportir furnitur asal Foshan yang kini mengandalkan media sosial untuk memangkas jalur distribusi agar dapat bertahan.
Di sisi lain, ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik membuat pelaku industri semakin pesimistis terhadap prospek pemulihan jangka pendek. Nicole Luk, seorang tenaga penjual di pabrik rangka tempat tidur Julei, menggambarkan betapa rentannya nasib para pekerja saat ini di tengah menyusutnya kehadiran pembeli asing. “Seluruh lanskap berubah dengan sangat cepat. Sangat sulit untuk diprediksi,” ungkapnya merefleksikan kegelisahan industri manufaktur di pesisir China.













