Strategi “Cash is King” Jadi Rem Darurat Investor Hindari Jebakan FOMO Disaat Gejolak Ekonomi Global

Semarang – Di tengah tingginya volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal Mei 2026, para pakar pasar modal mendesak investor untuk disiplin menerapkan strategi Cash is King. Langkah menahan porsi dana tunai ini dinilai sebagai instrumen paling krusial untuk menjaga likuiditas sekaligus meredam sindrom Fear of Missing Out (FOMO) saat menghadapi turbulensi geopolitik yang berisiko menghancurkan nilai portofolio di Bursa Efek Indonesia.

Urgensi kepemilikan dana tunai ini sejalan dengan rentannya kondisi pasar domestik akibat tekanan global. Data resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa IHSG sempat anjlok parah hingga 19,55 persen secara kumulatif sepanjang periode Januari hingga April 2026, yang dipicu oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan dan eksodus dana asing. Dalam kondisi pasar yang berdarah (bearish), cash position berfungsi ganda sebagai bantalan pelindung nilai aset agar tidak terjun bebas, serta menjadi amunisi cadangan fleksibel untuk memborong saham fundamental yang sedang terdiskon murah tanpa harus melakukan panic selling.

Penahanan likuiditas juga bertindak sebagai “rem” psikologis yang paling ampuh untuk melawan keserakahan (greed). Analis Maybank Trade, Jazzy Refadebby, menyoroti bahwa ketika sentimen global berubah menjadi risk-off akibat konflik geopolitik seperti ketegangan AS-Iran, investor kerap berhalusinasi mengejar keuntungan cepat tanpa rasionalitas. “Fokus pada fundamental perusahaan, diversifikasi portofolio, dan manfaatkan momentum koreksi agar risiko lebih terkelola,” tegas Jazzy mengingatkan bahaya keputusan impulsif. Senada dengan hal tersebut, tim riset Kiwoom Sekuritas mengimbau pelaku pasar untuk menerapkan manajemen risiko yang ketat dengan mengeksekusi porsi beli yang relatif lebih sedikit dari biasanya ketika membidik saham unggulan.

Secara taktis, disiplin alokasi aset wajib diadaptasi sesuai arah pasar. Pakar investasi menyarankan porsi kas ideal dipertahankan pada level 5-15 persen saat pasar optimis (bullish), dinaikkan menjadi 20-30 persen pada fase keraguan (sideways), dan wajib disiagakan di atas 40 persen ketika pasar memasuki fase koreksi (bearish). Di tengah lautan euforia buatan dan ancaman krisis, prinsip utama yang harus dipegang teguh adalah bertahan hidup (survival) jauh lebih penting daripada menghabiskan seluruh modal sebelum perang investasi yang sesungguhnya dimulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-1586342767751139, DIRECT, f08c47fec0942fa0